.
"Bro.. Yuk, loe nemenin gwa dulu"
"Ke mana?"
"Edd, dah... tumben pake nanya, biasanya langsung main ayo aja kalo gwa yang ngajak? Lagian loe gwa yang anterin balik ini lah. Yah, pokonya nemenin gwa dulu lah?"
"Iya... tau, tapi ke mana?"
"Yaah, gak serulah. Ke rumah kawan gwa yang sering gwa ceritain itu. Gwa ada perlu sebentar sama dia. Lagian di rumahnya asyik bro, adem, adeknya cakep lagi. Kali aja mood loe yang gak jelas kaya gitu langsung ngefresh ya kan?"
"Hahahh, yang bener aja. Yaudah yuk, entar kena macet lagi"
"Tuh, kan..."
"Ahh, reseh loe. Yaudah cepet, lagi males banget gwa kalo harus kena macet dulu, ayolah ayo..ah dadakn aja loe"
"Yayaya..gitu donk. Hahh"
Di tengah bilangan Kota Jakarta, Apri sebisa mungkin melajukan mobil Land Cruiser hitam kesayangannya sepanjang jalan. Dengan ukurannya yang besar, dengan corak warna yang buram, tentu cukup menarik perhatian setiap kendaraan yang juga melintas di jalur alternatif yang sama dengan kami --untuk menghindari-- kemacetan yang siap melengkapi eksistensi manusia semacam kami seusai pulang ngantor untuk segera ingin pulang ke rumah, pertanda waktu menunjukkan pukul 16.30. Dihiasi oleh pemandangan matahari sore yang perlahan mulai kembali ke peraduannya.
"Hoaaam.." Apri menguap.
Sedang aku hanya diam melempar pandangan di balik jendela. Yang dengan mudah bisa kulihat sekitar berhubung mobil yang ku tumpangi ini, selain ukurannya yang memang besar, juga cukup tinggi dari mobil biasanya, tentunya juga berbeda saat aku mengendarai mobilku sendiri. Yaah. Walaupun ini bukan yang pertama kalinya ku menebeng dengannya. Apri memang lebih sering menawarkan untuk berangkat dan pergi kerja bareng berhubung jalan rumah kami berdua searah. Namun, bukan alasanku untuk tetap ikut ke rumah kawannya tersebut, bukan pula karena adiknya kawannya yang katanya cantik. Entahlah, aku juga sedikit merasa bosan jika harus pulang ke rumah dan harus berdiam diri di kamar, walaupun sebenarnya aku juga tak ingin pergi.
"Woy broo, ngobrol ngapa. Diem aja loe! Heran gwa! Semenjak pulang dari Cengkareng kemaren nih, yaah.. loe gwa perhatiin mendadak jadi pendiem girtu. Kesambet apaan tahu?" timpal Apri yang mencoba mencairkan suasana yang pada akhirnya kami harus menerima kemacetan yang tak terelakkan lagi.
"Hahahh, cerewet loe. Bukannya nyetir aja. Yang bener loe!!!" tukasku.
"Ngantuk bro!!! Gantian ngapa nyetirnya, sekali-kali kek' loe ada fungsinya kalo lagi alot kaya gini"
"Sialan loe. Kalo gwa tahu loe sewot rada keberatan gini, mending gwa pulang aja tadi. Males lah, kayak gak biasa loe yang nyetir aja kan, kalo lagi barengan" jawabku memelas.
"Yee kan, sensian. Yaudah loe turun sono, lompat sekarang dari mobil gwa. Cuma ngerepotin gwa aja. Hahahh"
"Hahah gila loe. Yang bener aja, dasar! heheheh" kali ini aku kembali memelas dengan sedikit melebarkan senyum ke arahnya.
Yaah, begitulah Apri. Begitulah kami, walaupun kedengarannya konyol tapi kami tak pernah mengambil hati setiap candaan kami yang saling menimpali. Kami telah cukup lama berteman, sebagai rekan kerja, sebagai teman nongkrong, dan saling melibatkan satu sama lain. Yaah, kami memang lumayan dekat. Kami berdua bisa jadi teman yang asyik saat di keramaian. Kami berdua memang sering membuat candaan-candaan yang konyol, baik saat hanya berdua walaupun pada saat duduk dengan teman kerja kami yang lain. Singkatnya, kira-kira seperti itulah kami berdua.
* * *
Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul 18:00. Kami pun hampir sampai di tempat tujuan. Ku yang sempat tertidur di jalan tadi, langsung melihat lindai tatapan Apri berkendara dengan yang sedikit berbeda.Mungkin ia lelah. Tanpa segan ku pun menimpali, "Ngantuk bro, gantian sini nyetirnya" tanyaku sedikit berbasa-basi.
"Apaan. Udah, bukannya lanjut tidur aja. Lagian udah mau nyampe tahu. Kalo udah sampai kan, paling loe gwa biarin aja tidur di mobil. Gwa masuk deh ke dalem. Asyik ya kan kalo ditawarin makan juga. Yaa sapa tahu, adiknya pinter masak. seger ya kan. Enggak bro, gwa ngerti koq. Bener deh emang cuma gwa yang paling ngertiin elu.Gwa gak mau ganggu tidur loe. Yaah syukur setidaknya elo emang ada gunanya dikit jagain mobil gwa pas gwa lagi asyik ngobrol sama adeknya"
"Hahah" kali ini aku rada malu dengan leluconnya yang sedikit menyindirku.
"Makanya bro, jangan suka sok-sokan asyik mau ngajakin ngantor bareng, ngajak jalanlah, inilah. Bodo amat! lagian gila aja loe gwa di tinggal sendirian di mobil kalo sampe ketiduran. Mau sesak napas gwa, pengap. lagian nih mobil juga udah gede, gak perlu ada yang jagain. Emangnya kaya mau ketemu sama siapa aja, pakek di temenin segala" balasku dengan sedikit jahil ingin melihat reaksinya.
"Hehh" ia hanya tersenyum kecil.
Ku pun kembali memperhatikan tatapannya berkendara. Kali ini memang sedikit berbeda. Sambil sedikit melipat kening, ku pun lekas bertanya, "Emangnya kawan loe ini kaya gimana sih, Pri?" Tanyaku penasaran.
Sejenak, kami berdua hanya diam. Aku pun yakin dengan diamnya ialah ada sesuatu yang di pikirkannya. Aku pun semakin penasarn. Seperti apa temannya ini. Atau, entah apa lagi yang di pikirkannya sehingga ia harus terlihat sedikit berbeda di mataku. Belum sempat dalam benakku, ia pun beruara dengan nada kalem, yang bukan gayanya.
"Iya masbro, udah lama banget gwa gak ketemu. Kawan gwa yang satu ini udah deket banget sama gwa. Udah gwa anggap kaya sodara juga, kaya elo. Iya sih, kami sempat slek karna perihal yang harusnya gak perlu. tapi mau diapalagi. Kami emang sohiban. Gak bisa gwa mudah melupakan orang kaya dia. Banyak yang belum gwa ceritain sama elo, yang sampaihari ini juga kenapa gwa juga baru bisa ketemu lagi sama dia. Hehh. nanti deh, gwa cerita. Pokoknya orangnya asyik. Asyik banget malah. Kayaknya elu juga bakalan bisa akrab sama dia. Serius" ucapnya yang coba meyakinkanku.
"Hehh, so imut loe ah. Kayak gwa gak tahu elo aja Pri." Jawabnku sambil kembali melempar pandangan di sekitar yang mulai gelap.
"Udah pokoknya loe liat aja dah" jawabnya sekilas.
Aku hanya diam sambil tetap asyik memperhatikan. Lampu malam kota yang juga mulai dinyalakan dan menerangi malam, sedikit membawaku pada lamunan. Mengingat raut wajah sahabatku, dan sedikit cerita darinya. Aku berfikir bahwa ada masalah yang serius antara Apri dengan kawan lamanya sampai ia harus kembali bertemu sekian lama. Aku juga tak ingin terlalu ikut campur dan ingin lebih tahu banyak urusan orang, yang ku pikirkan, bagiku itu tak mudah. Menjalin kembali kedekatan dengan orang yang pernah dekat. Aku pun mengalaminya. Aku juga tak pernah menceritakan. Saat ini aku hanya berfikir, semua orang pasti berubah. Entah, itu dengan siapa. Dan siapapun dia, aku yakin akan selalu ada celah di mana orang yang pernah dekatan dengan kita tersebut, cenderung akan kembali saling menjauh apalagi dengan sengaja, ketika harus kembali bertemu dan memaksaan seperti sediakala, bagiku sama saja seperti mencicipi sebuah hidangan untuk kesekian kalinya dari orang yang sama, tapi rasa yang di rasapi kemudian takkan pernah lagi sama dengan hidangan sebelumnya. Apalagi bukan sekedar ego yang melandasi, tapi karna kehendak-ego tentang siapa yang lebih menarik dan siapa dan tentang siapa?!??. Bagiku, itu adalah cerita yang sangat membosankan. Yaah. Notabenenya seperti yang ku alami juga untuk saat ini. Aku tak ingin memikirkannya. Hanya ingin menyingkapi dan sedikit bijak dengan diri sendiri. Aku memandandang, sepanjang kita terperangkap oleh keingingan-keinginan ego untuk saling melupakan satu-sama lain karna kita harus tunduk atas dasar keinginan-keinginan untuk memenangkan diri sendiri sedang diri sendiri pun tak memahaminya. Pemenuhan kebutuhan terhadap orang lain sebagai mahluk sosial, canda, tawa, entah kekonyolan atau hal apalagi yang dapat dikenang saat bermain bersama, adalah sebuah gela yang makin lengkap disebabkan sifat egoisme tadi. ,Padahal, yang tadinya saling mengindahkan kini saling merendahkan. Bukankah itu sesuatu yang menakutkan dengan predikat manusia yang memegang gelar sebagai mahluk sosial. Aku bertanya? Seandainya
kita tahu, bahwa setiap manusia mampu mewakili keseluruhan semesta,
seharusnya manusia mau menyadari bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan akan sebuah kondisi yang seperti aku dan Apri alami ini, karena --semisal--
kekonyolan sekalipun adalah bagian dari semesta, maka setiap binatang dan manusia
pernah melakukan sesuatu yang menyenangkan. Yaah, setidaknya itu yang perlu diingat. bukan sebaliknya! Bukan atas sesuatu yang kemudian jadi terlupakan. Jauh lebih dalam dari itu,
kekonyolan sebenarnya menyinggung keangkuhan manusia dengan kemampuannya
yang serba hebat, menertawakan kesempurnaan itu sendiri, yang
diagungkan banyak orang untuk menggantikan peran Tuhan. Kemudian saling merendahkan satu sama lain. "Hmm..." Entahlah, aku tak ingin jauh lebih dalam. Aku hanya sedang tak mengerti. Apri, bagaimana menurutmu, teman? ....................................................................................................................................................................