Senin, 28 Maret 2016

(Secret Base) Apa Yang Tlah Kau Beri Kepadaku



Kau dan akhir musim panas, Mimpi masa depan
Dan harapan besar kita, Aku tidak akan melupakannya
Aku percaya kita akan bertemu
Di bulan Agustus 10 tahun kemudian
Kenangan terindah

Pertemuan kita adalah satu saat dalam perjalanan pulang di persimpangan
Kau berkata padaku, “Ayo pulang bersama”,kan?
Ketika aku menyembunyikan wajahku dengan tasku dengan malu
Sebenarnya, aku sangat, sangat senang

Ah, Kembang api yang merekah di langit dengan indahnya ini sedikit menyedihkan
Ah, Angin bertiup bersamaan dengan waktu

Sangat banyak kebahagiaan, Sangat banyak kesenangan
Kita mempunyai banyak petualangan
Di dalam markas rahasia milik kita berdua

Sampai akhir, Dari dalam hatimu
Aku tahu kau berteriak, “Terima kasih”
Sebuah perpisahan ketika kau menahan air matamu dan tersenyum itu menyedihkan, kan?
Kenangan terindah...

Ah, Liburan musim panas akan segera berakhir sedikit lagi
Ah, Aku berharap matahari dan bulan berteman

Sangat sedih, Sangat sepi
Kita memiliki banyak pertengkaran
Di dalam markas rahasia milik kita berdua
Sampai akhir, Dari dalam hatimu
Aku tahu kau berteriak, “Terima kasih”
Sebuah perpisahan ketika kau menahan air matamu dan tersenyum itu menyedihkan, kan?
Kenangan terindah...

Tidak ada yang bisa kulakukan tentang pindah sekolah yang tiba-tiba ini
Aku akan menulis surat, Aku akan meneleponmu
Jadi, Tolong jangan lupakan aku
Selamanya, Di dalam markas rahasia milik kita berdua
Aku berbicara panjang lebar padamu di akhir musim panas
Kita melihat matahari terbenam dan menatap bintang-bintang
Aku tidak akan pernah melupakan air mata yang mengalir di pipimu
Kau melambaikan tanganmu dengan segala kekuatanmu sampai akhir
Tentu aku tidak akan pernah melupakannya
Jadi, Biarkan aku ada di dalam mimpi ini,
Seperti ini, Selamanya..

Kau dan akhir musim panas, Mimpi masa depan
Dan harapan besar kita, Aku tidak akan melupakannya
Aku percaya kita akan bertemu
Di bulan Agustus 10 tahun kemudian
Sampai akhir, Dari dalam hatimu
Aku tahu kau berteriak, “Terima kasih”
Sebuah perpisahan ketika kau menahan air matamu dan tersenyum itu menyedihkan, kan?

Kenangan terindah...
Kenangan terindah…

Lupakan, Jangan Lupakan!

.


"Bro.. Yuk, loe nemenin gwa dulu"

"Ke mana?"

"Edd, dah... tumben pake nanya, biasanya langsung main ayo aja kalo gwa yang ngajak? Lagian loe gwa yang anterin balik ini lah. Yah, pokonya nemenin gwa dulu lah?"

"Iya... tau, tapi ke mana?"

"Yaah, gak serulah. Ke rumah kawan gwa yang sering gwa ceritain itu. Gwa ada perlu sebentar sama dia. Lagian di rumahnya asyik bro, adem, adeknya cakep lagi. Kali aja mood loe yang gak jelas kaya gitu langsung ngefresh ya kan?"

"Hahahh, yang bener aja. Yaudah yuk, entar kena macet lagi"

"Tuh, kan..."

"Ahh, reseh loe. Yaudah cepet, lagi males banget gwa kalo harus kena macet dulu, ayolah ayo..ah dadakn aja loe"

"Yayaya..gitu donk. Hahh"

Di tengah bilangan Kota Jakarta, Apri sebisa mungkin melajukan mobil Land Cruiser hitam kesayangannya sepanjang jalan. Dengan ukurannya yang besar, dengan corak warna yang buram, tentu cukup menarik perhatian setiap kendaraan yang juga melintas di jalur alternatif yang sama dengan kami --untuk menghindari-- kemacetan yang siap melengkapi eksistensi manusia semacam kami seusai pulang ngantor untuk segera ingin pulang ke rumah, pertanda waktu menunjukkan pukul 16.30. Dihiasi oleh pemandangan matahari sore yang perlahan mulai kembali ke peraduannya.

"Hoaaam.." Apri menguap.
Sedang aku hanya diam melempar pandangan di balik jendela. Yang dengan mudah bisa kulihat sekitar berhubung mobil yang ku tumpangi ini, selain ukurannya yang memang besar, juga cukup tinggi dari mobil biasanya, tentunya juga berbeda saat aku mengendarai mobilku sendiri. Yaah. Walaupun ini bukan yang pertama kalinya ku menebeng dengannya. Apri memang lebih sering menawarkan untuk berangkat dan pergi kerja bareng berhubung jalan rumah kami berdua searah. Namun, bukan alasanku untuk tetap ikut ke rumah kawannya tersebut, bukan pula karena adiknya kawannya yang katanya cantik. Entahlah, aku juga sedikit merasa bosan jika harus pulang ke rumah dan harus berdiam diri di kamar, walaupun sebenarnya aku juga tak ingin pergi.

"Woy broo, ngobrol ngapa. Diem aja loe! Heran gwa! Semenjak pulang dari Cengkareng kemaren nih, yaah.. loe gwa perhatiin mendadak jadi pendiem girtu. Kesambet apaan tahu?" timpal Apri yang mencoba mencairkan suasana yang pada akhirnya kami harus menerima kemacetan yang tak terelakkan lagi.

"Hahahh, cerewet loe. Bukannya nyetir aja. Yang bener loe!!!" tukasku.

"Ngantuk bro!!! Gantian ngapa nyetirnya, sekali-kali kek' loe ada fungsinya kalo lagi alot kaya gini"

"Sialan loe. Kalo gwa tahu loe sewot rada keberatan gini, mending gwa pulang aja tadi. Males lah, kayak gak biasa loe yang nyetir aja kan, kalo lagi barengan" jawabku memelas.

"Yee kan, sensian. Yaudah loe turun sono, lompat sekarang dari mobil gwa. Cuma ngerepotin gwa aja. Hahahh"

"Hahah gila loe. Yang bener aja, dasar! heheheh" kali ini aku kembali memelas dengan sedikit melebarkan senyum ke arahnya.

Yaah, begitulah Apri. Begitulah kami, walaupun kedengarannya konyol tapi kami tak pernah mengambil hati setiap candaan kami yang saling menimpali. Kami telah cukup lama berteman, sebagai rekan kerja, sebagai teman nongkrong, dan saling melibatkan satu sama lain. Yaah, kami memang lumayan dekat. Kami berdua bisa jadi teman yang asyik saat di keramaian. Kami berdua memang sering membuat candaan-candaan yang konyol, baik saat hanya berdua walaupun pada saat duduk dengan teman kerja kami yang lain. Singkatnya, kira-kira seperti itulah kami berdua.

* * * 

Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul 18:00. Kami pun hampir sampai di tempat tujuan. Ku yang sempat tertidur di jalan tadi, langsung melihat lindai tatapan Apri berkendara dengan yang sedikit berbeda.Mungkin ia lelah. Tanpa segan ku pun menimpali, "Ngantuk bro, gantian sini nyetirnya" tanyaku sedikit berbasa-basi.

"Apaan. Udah, bukannya lanjut tidur aja. Lagian udah mau nyampe tahu. Kalo udah sampai kan, paling loe gwa biarin aja tidur di mobil. Gwa masuk deh ke dalem. Asyik ya kan kalo ditawarin makan juga. Yaa sapa tahu, adiknya pinter masak. seger ya kan. Enggak bro, gwa ngerti koq. Bener deh emang cuma gwa yang paling ngertiin elu.Gwa gak mau ganggu tidur loe. Yaah  syukur setidaknya elo emang ada gunanya dikit jagain mobil gwa pas gwa lagi asyik ngobrol sama adeknya"

"Hahah" kali ini aku rada malu dengan leluconnya yang sedikit menyindirku.
"Makanya bro, jangan suka sok-sokan asyik mau ngajakin ngantor bareng, ngajak jalanlah, inilah. Bodo amat! lagian gila aja loe gwa di tinggal sendirian di mobil kalo sampe ketiduran. Mau sesak napas gwa, pengap. lagian nih mobil juga udah gede, gak perlu ada yang jagain. Emangnya kaya mau ketemu sama siapa aja, pakek di temenin segala" balasku dengan sedikit jahil ingin melihat reaksinya.

"Hehh" ia hanya tersenyum kecil.
Ku pun kembali memperhatikan tatapannya berkendara. Kali ini memang sedikit berbeda. Sambil sedikit melipat kening, ku pun lekas bertanya, "Emangnya kawan loe ini kaya gimana sih, Pri?" Tanyaku penasaran.

Sejenak, kami berdua hanya diam. Aku pun yakin dengan diamnya ialah ada sesuatu yang di pikirkannya. Aku pun semakin penasarn. Seperti apa temannya ini. Atau, entah apa lagi yang di pikirkannya sehingga ia harus terlihat sedikit berbeda di mataku. Belum sempat dalam benakku, ia pun beruara dengan nada kalem, yang bukan gayanya.

"Iya masbro, udah lama banget gwa gak ketemu. Kawan gwa yang satu ini udah deket banget sama gwa. Udah gwa anggap kaya sodara juga, kaya elo. Iya sih, kami sempat slek karna perihal yang harusnya gak perlu. tapi mau diapalagi. Kami emang sohiban. Gak bisa gwa mudah melupakan orang kaya dia. Banyak yang belum gwa ceritain sama elo, yang sampaihari ini juga kenapa gwa juga baru bisa ketemu lagi sama dia. Hehh. nanti deh, gwa cerita. Pokoknya orangnya asyik. Asyik banget malah. Kayaknya elu juga bakalan bisa akrab sama dia. Serius" ucapnya yang coba meyakinkanku.

"Hehh, so imut loe ah. Kayak gwa gak tahu elo aja Pri." Jawabnku sambil kembali melempar pandangan di sekitar yang mulai gelap.

"Udah pokoknya loe liat aja dah" jawabnya sekilas.

Aku hanya diam sambil tetap asyik memperhatikan. Lampu malam kota yang juga mulai dinyalakan dan menerangi malam, sedikit membawaku pada lamunan. Mengingat raut wajah sahabatku, dan sedikit cerita darinya. Aku berfikir bahwa ada masalah yang serius antara Apri dengan kawan lamanya sampai ia harus kembali bertemu sekian lama. Aku juga tak ingin terlalu ikut campur dan ingin lebih tahu banyak urusan orang, yang ku pikirkan, bagiku itu tak mudah. Menjalin kembali kedekatan dengan orang yang pernah dekat. Aku pun mengalaminya. Aku juga tak pernah menceritakan. Saat ini aku hanya berfikir, semua orang pasti berubah. Entah, itu dengan siapa. Dan siapapun dia, aku yakin akan selalu ada celah di mana orang yang pernah dekatan dengan kita tersebut, cenderung akan kembali saling menjauh apalagi dengan sengaja, ketika harus kembali bertemu dan memaksaan seperti sediakala, bagiku sama saja seperti mencicipi sebuah hidangan untuk kesekian kalinya dari orang yang sama, tapi rasa yang di rasapi kemudian takkan pernah lagi sama dengan hidangan sebelumnya. Apalagi bukan sekedar ego yang melandasi, tapi karna kehendak-ego tentang siapa yang lebih menarik dan siapa dan tentang siapa?!??. Bagiku, itu adalah cerita yang sangat membosankan. Yaah. Notabenenya seperti yang ku alami juga untuk saat ini. Aku tak ingin memikirkannya. Hanya ingin menyingkapi dan sedikit bijak dengan diri sendiri. Aku memandandang, sepanjang kita terperangkap oleh keingingan-keinginan ego untuk saling melupakan satu-sama lain karna kita harus tunduk atas dasar keinginan-keinginan untuk memenangkan diri sendiri sedang diri sendiri pun tak memahaminya. Pemenuhan kebutuhan terhadap orang lain sebagai mahluk sosial, canda, tawa, entah kekonyolan atau hal apalagi yang dapat dikenang saat bermain bersama, adalah sebuah gela yang makin lengkap disebabkan sifat egoisme tadi. ,Padahal, yang tadinya saling mengindahkan kini saling merendahkan. Bukankah itu sesuatu yang menakutkan dengan predikat manusia yang memegang gelar sebagai mahluk sosial. Aku bertanya? Seandainya kita tahu, bahwa setiap manusia mampu mewakili keseluruhan semesta, seharusnya manusia mau menyadari bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan akan sebuah kondisi yang seperti aku dan Apri alami ini, karena --semisal-- kekonyolan sekalipun adalah bagian dari semesta, maka setiap binatang dan manusia pernah melakukan sesuatu yang menyenangkan. Yaah, setidaknya itu yang perlu diingat. bukan sebaliknya! Bukan atas sesuatu yang kemudian jadi terlupakan. Jauh lebih dalam dari itu, kekonyolan sebenarnya menyinggung keangkuhan manusia dengan kemampuannya yang serba hebat, menertawakan kesempurnaan itu sendiri, yang diagungkan banyak orang untuk menggantikan peran Tuhan. Kemudian saling merendahkan satu sama lain. "Hmm..." Entahlah, aku tak ingin jauh lebih dalam. Aku hanya sedang tak mengerti. Apri, bagaimana menurutmu, teman? ....................................................................................................................................................................

Selasa, 22 Maret 2016

Amarah




Ia yang hadir menguliti jiwa
yang bergerak di dalam diri
nyala-nyala amarah kian membuncah
pada suatu tempat di mana ia tertahan
Terlampau patah arang dari rentetan bahagia
Lalu dilumat oleh keegoisan tentang zaman
Kian riskannya di pagi hari
Menatap cakrawala tinggi di depan dengan lagak sinis
Sirnanya waktu dengan terik matahari siang
Mempogoh senja yang kian menenggelamkan jiwa
yang entah kepada siapa ia meresahinya

Malam..
Mungkin, aku hanyalah seberkas kisah di masa mendatang
Di mana setiap goresan pena yang belum di tuliskan
Dengan pancaran ketakutan akan rasa ketidakberdayan
Dalam kecemasan yang menjarak dentaman harap
Kehilangan
Dan harapan yang tuak kunjung datang
Sedang nyala apinya meletupkan bara yang membakarku
Percik sinaran menepis
Melayangkan sabarku
Hadirkan emosi berselang dengan kebungkaman yang memecah

Sendiri kuhadapi
sendiri menelusuri
Gersang hati yang mulai merapuh

Dengan tujuan yang benar, di mana cara yang baik selalu terasa sulit
Lalu membisik di telinga
Dan tergambarlah dalih, "Siapakah ia ?"
Aku merasa ada sekat yang selalu membuatku bertanya 
Dapatkah ku ekspresikan amarahku diwaktu yang tepat ?

Senin, 21 Maret 2016

Masih Tentang Hujan (Merindu)







"..Sungguh, dalam hujan ada lagu yang dapat didengar oleh mereka yang merindu"


Bunga-bunga pandangi isyarat awan
Semendung langit bercerah pada warna yang mengabu
Gemuruh angin tinggalkan tanda, seolah landai ikut bercetar
Ada yang lebih dulu mendera di rongga dada
Seraut wajah bagai sejuk angin melirih
Bersama rintik-rintik hujan yg mulai membasahi

Deras..
Kemanakah perginya hati
Menyambut hujan dalam relung dingin suasana
Menerabas pohon dan rerumputan yang siap dihujam
Terpantul titik rinainya menari
Mengajak hati ingin ikut kesana, melesat jauh ke dalam ingatan
Bagai cahaya dari lembayung silam
Membuka kisah lama penuh dengan romansa.. 

"Sungguh, dalam hujan ada lagu yang dapat didengar oleh mereka yang merindu"

Lalu, dapatkan engkau mendengar setangkup rinduku ini ?
Menggelamit waktu ku berkaca pada segelumit kisah itu
Pada setangkai asa yang menggantung pupus
Suara dedaun ikut menggugur bersama hujan
Seberkas cahaya dari riak bening air menggenang
Gemuruh Rindu terpuaskan bersua, meski sementara
Seakan menjawab kabar seorang yang menungguku di sana
Dengan tergesa melukuskan musim
Pada pengharapan yang lama mengering
Dalam lipatan tabir yang menyimpan sejuta kenangan tersendiri
Sebagai hadiah tuk menghibur sendiriku dan sendirinya..

Hujan..
Kuharap engkau tak pernah berhenti
Masih ada yg ingin ku ceritakan tentangnya
Mendekap angan temani ku disini
Terpaut dua dimensi berkelabat risau dengannya di sana
Dalam guratan tanya yang selalu terngiang
Melewati hari melawan waktu
Menyangsi saksi dalam kebisuan
Akan rindu yang tertahan dalam pada aral memudar
Hadirkan malam yang ikut menyapa
Mendongengkan ku untuk tertidur sejenak
Tanpa harus kumerasa rapuh, seraya berdoa
Menahan linangan air mata yang menetes tak tertahankan
Masuki mimpi yang ku harap menjadi nyata
Di mana sungai memuarakanku untuk ia yang ku tuju
Menghirup aroma semerbak bunga ditaman Eden
Bersama alam, terbiaskan pelangi

Hujan..
Kuharap engkau tak harus berhenti
Saat ku membuka mata tuk melihatnya pertama kali
Dengan nyengir senyuman bahagia
Pada sebuah dunia, di pagi hari yang lain..

Kamis, 17 Maret 2016

Mengejar Cahaya Bunga Matahari - I

04:24.

Di pagi dingin yang membutakan. Apa yang nampak oleh mata diperoleh melalui cahaya, yang dimulai dari lampu kamar sederhana sebagaimana desainnya --seperti matahari-- untuk memancarkan cahaya pelita ke seluruh hamparan bumi. Mataku pun terbuka. Mengajakku beranjak untuk melihat dunia di luar sana yang lebih luas. 

"Ya, cahaya", gumam hatiku.
Masih tak beranjak dari pembaringanku yang malas. Sejenak lamunanku tentang cahaya, mengajakku menerawang jauh ke belakang di mana ku coba melupakan prosa pada sebuah untain makna dalam puisi yang pernah kubuat beberapa tahun silam. Yang entah berantah hal apa yang membuatku reflex untuk segera mengingatnya sekarang, bagaimana aku bisa membuatnya?
"Seperti dalam kamarku", gumamku berbisik.

"Tok, tok, tok....""Bangun Nak, sudah pagi. Shalat subuh. katanya mau ke Cengkareng?", sapaan pagi dari wanita tua.

"Iya Bu', sudah bangun koq!. Sebentar lagi", sahutku padanya.
Aku pun bersegera untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Bergegas setelah berpakaian dan menyiapkan perlengkapan, seperti biasa ku awali aktivitas pagi dengan meminum secangkir kopi hitam  sebagai ritual pagiku sebelum meninggalkan rumah. Dalam perenunganku kali ini, entah mengapa ada yang sedikit mengganjal suasana hatiku. Lagi-lagi alam pikirku, tentang puisi itu..

"Loh koq cuma ngopi aja. Gak sarapan, apa?", ujar ibu ku kembali mengingatkan.

Alam pikirku pun, buyar. "Iya Bu', gak usah !. Mau bawa roti aja. Lumayan sambil makan dijalan. Lagian udah jam berapa juga. Saya pergi dulu yah. Assalamualaikum."

"Walaikumsalam, hati-hati Nak", jawabnya kembali mengingatkan.

"Bremmm, brmmmm.."., suara mobilku yang lupa kupanasi terdengar sedikit risih ditelinga

."Iya Bu', siiip lah. hehh". Sahutku terburu-buru. 
Ia pun tetap berdiri di depan pintu memandangi seakan gontai  memperhatikan. Sebagai seorang ibu yang mengetahui anaknya, mungkin, ia pun merasa bahwa memang ada yang berbeda dengan suasana hatiku pagi ini. Sempat kubercakap sendiri mencoba mengembalikan alam pikirku tentang puisi tersebut. Kuletakkan tas hitamku di jok sebelah kiri mobil. Sejenak ku terdiam. Kosong. Tersadar belum kutemukan jawabnya, "Mengapa aku begitu mengotot untuk mengingatnya? Memangnya ada apa dengan puisi itu? Hmm..entahlah. Yah, suasana hatiku, seperti di dalam kamarku", kataku dalam hati.

 ***

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 08:20. Seperti biasa, Jakarta macet !!!. Aku menghela napas, seakan tak perduli dengan kemacetan disekeliling yang membuatku khawatir bila harus terlambat untuk sampai di tujuan nantinya. Padat merayap. Bising suara klakson pengendara yang  saling ngotot tak mau mengalah.  Dengan bangun lebih awal, tak ada yang bisa mengira dan menjamin keadaan ini. Tentu saja kemacetan seperti ini adalah hal yang sudah sering terjadi, adalah hal yang harus diterima dan tak perlu diherankan lagi bagi warga yang berdomisili di Jakarta.

"Huffft", sedikit keluhku dalam mobil.Bosan dengan kondisi yang terjadi, segera kunyalakan tape-mobil dengan maksud memperbaiki suasana hati.
"Criiiiiiiing", volume radio seketika terdengar sangat keras. 
Sontakku pun kaget."Hahahhh", Aku tertawa.Mengingat bahwa setiap ku berkendara, jarang sekali -bahkan- hampir tidak pernah sama sekali kumenyalakannya. Biasanya, saat berkendara, aku memang lebih suka mendengar musik dengan mengenakan headset via aplikasi MP3 yang terpasang di handphoneku. Alasannya, karna diplaylist tersimpan lagu-lagu kesayangan yang sengaja kudownload untuk kudengar. Aku tersenyum. Mencoba mendengarkan sambil berkendara dengan lebih tenang menyikapi kemacetan yang ada. Seiring laju ku berkendara, mengalunlah sebuah lagu yang dilantunkan oleh band lawas. Kebetulan, telingaku memang sangat akrab terbilang selera musikku yang menggemari band era 80 s/d 90an. Di mana lagu-lagunya dirilis tepat ditahun-tahun saat aku tumbuh menjadi seorang remaja. Aku menyimak, dan kali ini, aku benar-benar menikmatinya.

"Teduhkanlah hatiku. Lelapkanlah jiwaku. Duhai...engkau...cahaya mataku. Yang menuntun jalanku. Yang memandu hidupku.Yang meredupkan perih penatku......."

Seraya lagu itu memaksaku kembali menyelami alam pikir. Kali ini tak bisa kuabaikan begitu saja. Ia benar-benar memaksa. Lagi-lagi tentang cahaya. Kembaliku dalam perenungan. Tetap saja aku tak bisa mengingat bagaimana aku membuat puisi tersebut? Dan belum kutemukan jawabnya.Memasuki pintu tol Jakarta-Cengkareng. Kulajukan kendaraanku dengan percaya diri. Tetap tenang dengan kecepatan 60 km/jam. Tetap dalam perenungan. Sambil kuamati intens cahaya matahari yang terlihat lebih meninggi, sempat menyilaukan mataku dari sisi luar kaca mobil di sudut depan. Kernannya, aku sedikit berfilosofis, sambil menoleh ke jam tangan yang ku pakai sekarang, menunjuk waktu pukul 09:26.

Dalam hati ku bercakap, "Mata kita mampu melihat sebab adanya cahaya. Aku coba meragu, apakah karena memang dengan mata ini, atau memang karna adanya cahaya seorang manusia dapat melihat. Lalu, apakah seorang yang buta tetap tak akan dapat  melihat semua warna yang nampak sebab karna cahaya matahari yang melekat pada warna-warna tersebut, selain karna ia buta? Aku tak pernah membayangkan bagaimana jika mataku yang buta. Tak habis pikir bagaimana ku memandangi dunia sebagai yang-hidup dalam tataran warna-warninya yang ajaib, yang begitu banyak menyimpan misteri tentang keindahannya. Lalu, bagaimana seorang buta yang kubayangkan tadi, mampu melihat dalam kebutaannya?". 
Aku tak ingin mengira-ngira. Pertanyaan demi pertanyaan terus saja meracuni pikiranku. Hal yang seharusnya tak perlu ku pikirkan dalam perjalananku kali ini. Lagi-lagi, tak kutemukan jawabnya, mengapa?

"Tersenyumlah...Bahagialah..."Sungguh engkau. Yang melumpuhkan hatiku. Yang melipurkan rinduku. Senyuman itu menyenangkan aku" 

Lagu tersebut akhirnya berhenti terngiang sampai bait akhirnya. Dan ku pun mencoba kembali fokus untuk berkendara dan meneruskan perjalanan. Sedikit membatin. Aku tak tahu. Dan belum mengerti dengan suasana hatiku tentang puisi tersebut. Yang terbesit dalam pikirku sekarang adalah, "Seyogyanya cahaya pada penglihatan mata atas semua warna yang nampak dan terlihat, masih adakah cahaya di atas cahaya selain dari sumber cahaya yang satu, yang disebut matahari?"

***

Rabu, 16 Maret 2016

Dunia Di Dalam Cermin: Bagaimanakah rasanya menjadi hati?!

Dunia Di Dalam Cermin: Bagaimanakah rasanya menjadi hati?!

Suatu hari seorang wanita belia bertanya kepadaku, "Bagaimanakah rasanya menjadi seorang pria?"
 
Dan aku menjawab, "Sayangku, aku tak begitu paham."

Kemudia ia berkata, "Bukankah anda seorang pria?"

Dan kali ini aku menjawab, "Aku melihat gender bagaikan binatang yang indah, yang kerap dibawa untuk berjalan-jalan dengan tali, dan memasuki bberapa kontes yang ganjil untuk mencoba memenangkan hadiah-hadiah yang tak lazim. Sayangku, pertanyaan yang lebih baik untuk seorang Hafiz adalah, 'Bagaimanakah rasanya menjadi hati?' Karena yang kuketahui hanyalah Cinta, dan kudapati hatiku mahaluas dan berada di mana-mana!"

Selasa, 15 Maret 2016

Bagaimanakah rasanya menjadi hati?!

Suatu hari seorang wanita belia bertanya kepadaku, "Bagaimanakah rasanya menjadi seorang pria?".

Dan aku menjawab, "Sayangku, aku tak begitu paham."

Kemudia ia berkata, "Bukankah anda seorang pria?"

Dan kali ini aku menjawab, "Aku melihat gender bagaikan binatang yang indah, yang kerap dibawa untuk berjalan-jalan dengan tali, dan memasuki bberapa kontes yang ganjil untuk mencoba memenangkan hadiah-hadiah yang tak lazim. Sayangku, pertanyaan yang lebih baik untuk seorang Hafiz adalah, 'Bagaimanakah rasanya menjadi hati?' Karena yang kuketahui hanyalah Cinta, dan kudapati hatiku mahaluas dan berada di mana-mana!"