Kamis, 17 Maret 2016

Mengejar Cahaya Bunga Matahari - I

04:24.

Di pagi dingin yang membutakan. Apa yang nampak oleh mata diperoleh melalui cahaya, yang dimulai dari lampu kamar sederhana sebagaimana desainnya --seperti matahari-- untuk memancarkan cahaya pelita ke seluruh hamparan bumi. Mataku pun terbuka. Mengajakku beranjak untuk melihat dunia di luar sana yang lebih luas. 

"Ya, cahaya", gumam hatiku.
Masih tak beranjak dari pembaringanku yang malas. Sejenak lamunanku tentang cahaya, mengajakku menerawang jauh ke belakang di mana ku coba melupakan prosa pada sebuah untain makna dalam puisi yang pernah kubuat beberapa tahun silam. Yang entah berantah hal apa yang membuatku reflex untuk segera mengingatnya sekarang, bagaimana aku bisa membuatnya?
"Seperti dalam kamarku", gumamku berbisik.

"Tok, tok, tok....""Bangun Nak, sudah pagi. Shalat subuh. katanya mau ke Cengkareng?", sapaan pagi dari wanita tua.

"Iya Bu', sudah bangun koq!. Sebentar lagi", sahutku padanya.
Aku pun bersegera untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Bergegas setelah berpakaian dan menyiapkan perlengkapan, seperti biasa ku awali aktivitas pagi dengan meminum secangkir kopi hitam  sebagai ritual pagiku sebelum meninggalkan rumah. Dalam perenunganku kali ini, entah mengapa ada yang sedikit mengganjal suasana hatiku. Lagi-lagi alam pikirku, tentang puisi itu..

"Loh koq cuma ngopi aja. Gak sarapan, apa?", ujar ibu ku kembali mengingatkan.

Alam pikirku pun, buyar. "Iya Bu', gak usah !. Mau bawa roti aja. Lumayan sambil makan dijalan. Lagian udah jam berapa juga. Saya pergi dulu yah. Assalamualaikum."

"Walaikumsalam, hati-hati Nak", jawabnya kembali mengingatkan.

"Bremmm, brmmmm.."., suara mobilku yang lupa kupanasi terdengar sedikit risih ditelinga

."Iya Bu', siiip lah. hehh". Sahutku terburu-buru. 
Ia pun tetap berdiri di depan pintu memandangi seakan gontai  memperhatikan. Sebagai seorang ibu yang mengetahui anaknya, mungkin, ia pun merasa bahwa memang ada yang berbeda dengan suasana hatiku pagi ini. Sempat kubercakap sendiri mencoba mengembalikan alam pikirku tentang puisi tersebut. Kuletakkan tas hitamku di jok sebelah kiri mobil. Sejenak ku terdiam. Kosong. Tersadar belum kutemukan jawabnya, "Mengapa aku begitu mengotot untuk mengingatnya? Memangnya ada apa dengan puisi itu? Hmm..entahlah. Yah, suasana hatiku, seperti di dalam kamarku", kataku dalam hati.

 ***

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 08:20. Seperti biasa, Jakarta macet !!!. Aku menghela napas, seakan tak perduli dengan kemacetan disekeliling yang membuatku khawatir bila harus terlambat untuk sampai di tujuan nantinya. Padat merayap. Bising suara klakson pengendara yang  saling ngotot tak mau mengalah.  Dengan bangun lebih awal, tak ada yang bisa mengira dan menjamin keadaan ini. Tentu saja kemacetan seperti ini adalah hal yang sudah sering terjadi, adalah hal yang harus diterima dan tak perlu diherankan lagi bagi warga yang berdomisili di Jakarta.

"Huffft", sedikit keluhku dalam mobil.Bosan dengan kondisi yang terjadi, segera kunyalakan tape-mobil dengan maksud memperbaiki suasana hati.
"Criiiiiiiing", volume radio seketika terdengar sangat keras. 
Sontakku pun kaget."Hahahhh", Aku tertawa.Mengingat bahwa setiap ku berkendara, jarang sekali -bahkan- hampir tidak pernah sama sekali kumenyalakannya. Biasanya, saat berkendara, aku memang lebih suka mendengar musik dengan mengenakan headset via aplikasi MP3 yang terpasang di handphoneku. Alasannya, karna diplaylist tersimpan lagu-lagu kesayangan yang sengaja kudownload untuk kudengar. Aku tersenyum. Mencoba mendengarkan sambil berkendara dengan lebih tenang menyikapi kemacetan yang ada. Seiring laju ku berkendara, mengalunlah sebuah lagu yang dilantunkan oleh band lawas. Kebetulan, telingaku memang sangat akrab terbilang selera musikku yang menggemari band era 80 s/d 90an. Di mana lagu-lagunya dirilis tepat ditahun-tahun saat aku tumbuh menjadi seorang remaja. Aku menyimak, dan kali ini, aku benar-benar menikmatinya.

"Teduhkanlah hatiku. Lelapkanlah jiwaku. Duhai...engkau...cahaya mataku. Yang menuntun jalanku. Yang memandu hidupku.Yang meredupkan perih penatku......."

Seraya lagu itu memaksaku kembali menyelami alam pikir. Kali ini tak bisa kuabaikan begitu saja. Ia benar-benar memaksa. Lagi-lagi tentang cahaya. Kembaliku dalam perenungan. Tetap saja aku tak bisa mengingat bagaimana aku membuat puisi tersebut? Dan belum kutemukan jawabnya.Memasuki pintu tol Jakarta-Cengkareng. Kulajukan kendaraanku dengan percaya diri. Tetap tenang dengan kecepatan 60 km/jam. Tetap dalam perenungan. Sambil kuamati intens cahaya matahari yang terlihat lebih meninggi, sempat menyilaukan mataku dari sisi luar kaca mobil di sudut depan. Kernannya, aku sedikit berfilosofis, sambil menoleh ke jam tangan yang ku pakai sekarang, menunjuk waktu pukul 09:26.

Dalam hati ku bercakap, "Mata kita mampu melihat sebab adanya cahaya. Aku coba meragu, apakah karena memang dengan mata ini, atau memang karna adanya cahaya seorang manusia dapat melihat. Lalu, apakah seorang yang buta tetap tak akan dapat  melihat semua warna yang nampak sebab karna cahaya matahari yang melekat pada warna-warna tersebut, selain karna ia buta? Aku tak pernah membayangkan bagaimana jika mataku yang buta. Tak habis pikir bagaimana ku memandangi dunia sebagai yang-hidup dalam tataran warna-warninya yang ajaib, yang begitu banyak menyimpan misteri tentang keindahannya. Lalu, bagaimana seorang buta yang kubayangkan tadi, mampu melihat dalam kebutaannya?". 
Aku tak ingin mengira-ngira. Pertanyaan demi pertanyaan terus saja meracuni pikiranku. Hal yang seharusnya tak perlu ku pikirkan dalam perjalananku kali ini. Lagi-lagi, tak kutemukan jawabnya, mengapa?

"Tersenyumlah...Bahagialah..."Sungguh engkau. Yang melumpuhkan hatiku. Yang melipurkan rinduku. Senyuman itu menyenangkan aku" 

Lagu tersebut akhirnya berhenti terngiang sampai bait akhirnya. Dan ku pun mencoba kembali fokus untuk berkendara dan meneruskan perjalanan. Sedikit membatin. Aku tak tahu. Dan belum mengerti dengan suasana hatiku tentang puisi tersebut. Yang terbesit dalam pikirku sekarang adalah, "Seyogyanya cahaya pada penglihatan mata atas semua warna yang nampak dan terlihat, masih adakah cahaya di atas cahaya selain dari sumber cahaya yang satu, yang disebut matahari?"

***

Tidak ada komentar: