Ia yang hadir menguliti jiwa
yang bergerak di dalam diri
nyala-nyala amarah kian membuncah
pada suatu tempat di mana ia tertahan
Terlampau patah arang dari rentetan bahagia
Lalu dilumat oleh keegoisan tentang zaman
Kian riskannya di pagi hari
Menatap cakrawala tinggi di depan dengan lagak sinis
Sirnanya waktu dengan terik matahari siang
Mempogoh senja yang kian menenggelamkan jiwa
yang entah kepada siapa ia meresahinya
Malam..
Mungkin, aku hanyalah seberkas kisah di masa mendatang
Di mana setiap goresan pena yang belum di tuliskan
Dengan pancaran ketakutan akan rasa ketidakberdayan
Dalam kecemasan yang menjarak dentaman harap
Kehilangan
Dan harapan yang tuak kunjung datang
Sedang nyala apinya meletupkan bara yang membakarku
Percik sinaran menepis
Melayangkan sabarku
Hadirkan emosi berselang dengan kebungkaman yang memecah
Sendiri kuhadapi
sendiri menelusuri
Gersang hati yang mulai merapuh
Dengan tujuan yang benar, di mana cara yang baik selalu terasa sulit
Lalu membisik di telinga
Dan tergambarlah dalih, "Siapakah ia ?"
Aku merasa ada sekat yang selalu membuatku bertanya
Dapatkah ku ekspresikan amarahku diwaktu yang tepat ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar